Membaca Perubahan Sebagai Tantangan

Teknologi informasi melesat kian pesat. Mentransformasi hampir segala hal menjadi begitu mudah dan cepat; virtual, nisbi. Menyediakan beragam informasi layaknya air bah yang turun dari puncak bukit.

Sambungan internet kemudian  menjelma menjadi gizi yang menyehatkan dan sekaligus racun yang siap membius mangsanya, sebelum menelannya. Seperti racun ular derik.

Lalu kaum Santri. Mereka adalah kaum yang tak bisa beranjak selain dari pesantren. Kepada pesantren pula mereka akan menatap dan memaknai masa depan. Bagi mereka, pesantren adalah nafas. Yang darinya mengalir oksigen kehidupan para santri sepanjang jaman.

Di era informasi seperti sekarang, para santri rupanya masih tak berhasrat mengecilkan peranan pesantren dalam budaya transformatif ini. Meski terjadi demarkasi makna cukup lebar dengan terma “teknologi” di luar tembok pesantren.

Menjadi Santri adalah komitmen seumur hidup untuk memperkaya diri dan lingkungannya dengan aktifitas pendalaman ilmu-ilmu keislaman (tafaqquh fid-din), on-grid atau tidak. Pakai listrik atau lampu templek. Formal ataupun tradisional.

Karenanya, tantangan untuk selalu dapat berakselerasi dengan perubahan jaman adalah aksioma bagi santri. Tapi perubahan  budaya tampaknya memang selalu lebih berat untuk dihadapi dibanding sekedar kemajuan teknologi.

Bukankah madrasah, yang kini erat melekat pada batang tubuh pesantren itu, adalah upaya adaptatif juga. Muncul pertama kali sebagai “budaya” baru di awal abad 20, di Padang. Sebelum akhirnya bertumbuh di belahan lain negeri ini. Berdiri sendiri atau berpayungkan lembaga pesantren.

Jadi madrasah adalah sistem yang datang kemudian di blantika pendidikan kaum Santri. Diperkenalkan sebagai alternatif. Sebagai jawaban pada tuntutan sebagian masyarakat akan metode pengajaran yang lebih terstruktur dan sistematis. Karenanya, ia tak selalu menjadi hal yang harus ada di tiap pesantren.

Adalah pandemi di awal tahun 2020 ini, yang merangsek begitu kuat dan digdaya dalam menciptakan ribuan budaya baru. Tapi Santri dan pesantrennya harus menjawab tantangan apapun yang muncul di hadapannya.

Madrasah virtual, atau virtualisasi-madrasah, adalah upaya wong-sarungan yang kali ini ditantang untuk bisa menggunakan “gizi” dari kemajuan teknologi secara optimal dalam menghadapi transformasi budaya dan perubahan yang ada.

Menjadi Santri adalah komitmen seumur hidup untuk memperkaya diri dan lingkungannya dengan aktifitas pendalaman ilmu-ilmu keislaman.