Modal Sosial untuk Bermasyarakat

Dari Abu Dzarr radhiyallahu’anhu, berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Abu Dzarr, jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR. Muslim)

Mengingatkan kita pada seorang Filsuf yang dikenal dengan istilah“Zoon Politicon”, Aristoteles, bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Begitu juga dengan Agama Islam, untuk berinteraksi perlu juga memahami bagaimana sikap, perilaku maupun cara bicara kita kepada orang lain.

Hadits di atas, menjelaskan bahwa Rasulullah meminta kepada Abu Dzar untuk memberikan sebagian dari masakannya kepada tetangganya, dan sebagai seorang Muslim, ada baiknya jika hal itu juga kita laksanakan, karena sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan pada tetangga kita, hal tersebut merupakan bentuk bahwa kita telah menjalankan tata cara atau akhlak dalam bertetangga.

Manusia hidup berdampingan antara satu dengan yang lain, dan diantara kata berdampingan tersebut ada hal-hal yang harus kita penuhi, apabila kita sudah berkecukupan dalam segi materiil, sudah seharusnya kita melaksanakan kewajiban dengan cara berzakat, bersedekah atau berinfaq. Kepada siapa? dikatakan di dalam Al-Qur’an, Dzawil Qurba (Kerabat Dekat). Dzawil Qurba bisa juga orang yang dekat dengan kita, yang memiliki kedekatan karena pertalian darah ataupun hubungan dalam bertetangga. Jadi, seandainya Saudara yang ingin kita beri sedekah, infaq, atau zakat ternyata ia juga memiliki kecukupan dalam segi finansialnya, kita bisa memberikan kewajiban kita tersebut kepada tetangga yang mana ia memang berhak menerimanya dan di dalam agama juga sudah dijelaskan bagaimana aturan-aturan dalam memberi hak-hak kepada orang lain atau berzakat.

Selanjutnya yang harus kita penuhi dalam hidup bertetangga adalah menyambung tali silaturahmi, jika mendapati tetangga yang sedang kesulitan kita sebagai sesama manusia, sesama muslim wajib untuk membantu dan berdo’a demi kebaikannya. Rasulullah saat mendapati tetangganya yang sakit, kemudian Beliau menjenguk dan duduk disampingnya, lalu berdo’a :

“Allahuma rabban nasi, adzhibil ba’sa. Isyfi Antas syafi La syafiya illa anta syifa’an la yughadiru saqaman”

Artinya : “Tuhanku, Tuhan manusia, sembuhkanlah karena sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang memberi kesembuhan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan itu dari Allah SWT Dzat yang maha memberi kesembuhan.”

Menjenguk tetangga yang sakit merupakan hal yang harus, selain itu kita juga wajib memberi ucapan selamat kepada tetangga kita yang sedang mendapatkan kebahagiaan, misalnya tetangga tersebut dianugerahi keturunan. Di Indonesia sendiri, kebiasaan-kebiasaan seperti ini sudah menjadi tradisi dan itu harus dipertahankan, karena islam merupakan cerminan dari etika kita dalam berperilaku sehari-hari.

kemudian tertulis di dalam kitab, hendaknya pandangan kita tidak tertuju pada tetangga perempuan kita, misalnya perempuan tersebut adalah orang yang membantu atau bekerja pada kita, karena dia bukan mukhrim kita. Selain itu, sebagai seorang tetangga yang baik, hendaknya saling menjaga aib tetangga dan tidak perlu menceritakan keburukan-keburukannya kepada tetangga yang lain karena seperti yang dikatakan oleh Rasulullah SAW.

“Karena siapa yang mampu menutupi aib orang lain, maka aib orang tersebut akan ditutup oleh Allah SWT.”

dan itu adalah janji Allah SWT, maka dari itu kenapa di dalam Al-Qur’an diajarkan untuk tidak membicarakan keburukan orang lain atau Ghibah, yang akan mendatangkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti kebencian. Digambarkan juga di dalam Al-Qur’an bahwa orang yang senang membuka aib orang lain diibaratkan seperti makan daging Saudaranya sendiri.

Betapa Al-Qur’an telah memperingatkan kita untuk menghindari Ghibah, yang menimbulkan rasa ketidaksukaan tetangga terhadap perilaku kita. Menutup aib adalah hak tetangga yang harus kita penuhi dan kita-pun sebagai seorang manusia juga tidak ingin jika aib kita dibicarakan oleh orang lain. Telah diajarkan juga di dalam agama islam, untuk ikut serta bagaimana hal yang tidak disenangi bisa jadi tidak terjadi, dalam arti apabila mendapati tetangga kita yang sedang dalam kesulitan maka kitapun juga bertanggung jawab agar kesulitan itu tidak menimpanya.

Yang terakhir, diperintahkan untuk selalu memasang wajah yang sumringah dan penuh penghormatan saat bertemu dengan orang lain ataupun tetangga kita. Jika yang pertama adalah mengucapkan salam, yang dimana ketika kita mengucapkan salam sama artinya dengan mendo’akan. Kitab Taisirul Khallaq, membahas tentang hak-hak tetangga tentang yang mana ajarannya merupakan modal sosial untuk kita pahami dan praktikkan di dalam kehidupan sehari-hari, dalam kehidupan bertetangga. Sebab dalam kitab Mauidhotul Mukminin ada 3 (tiga) hal kenapa kita hidup berdampingan atau bertetangga.

  1. Kita mendapati suatu orang yang hidup dengan satu yang lain berdekatan karena dia memang satu keturunan.
  2. Sebab kita bertetangga karena Addinu Islam, sesama islam.
  3. Karena adanya hubungan sosial.

Point yang ketiga membahas hubungan sosial yang mana di Indonesia sendiri masyarakatnya beragam latar belakang, dari segi budaya maupun keyakinannya. Namun disatukan karena adanya hubungan sebangsa dan setanah air.

Dari Hadits yang disampaikan oleh Abdullah bin Amr, pada suatu ketika Rasulullah SAW menyembelih kambing, kemudian Rasulullah bersabda jika telah selesai, berikan kepada tetanggaku yang beragama Yahudi. Lalu Rasulullah mengatakan juga jika Malaikat Jibril itu selalu berwasiat kepadanya tentang tetangga, sampai-sampai Rasulullah mengira bahwa Malaikat Jibril itu akan mewasiatkan tetangga adalah ahli, atau warisan yang harus dijaga.

Dalam pepatah arab, sebelum kita ini membangun rumah, maka tetangga merupakan hal penting untuk dipertimbangkan, karena kita akan bersosialiasasi dengannya, dan sudah seharusnya kita tahu hak kita terhadap ia dan begitu sebaliknya. Sebab ada sebuah kisah dari Abul Aswad Ad-Du’aliy.

“Hai, Abu Aswad kenapa kamu jual rumahmu?”

Abu Aswad menjawab, “Aku tidak menjual rumahku, tapi aku menjual tetangga.”

Artinya bahwa Abu Aswad Ad-Du’aliy menjual rumahnya bukan karena rumahnya tidak layak atau tidak bagus, tapi karena dia merasa bahwa tetangganya tidak memiliki akhlak/etika yang baik seperti yang diajarkan oleh agama dan dia tidak mengatakan jika tetangganya tidak baik. Maka dari itu, kenapa dalam pepatah arab tetangga itu sangat penting, karena ia berpengaruh pada kehidupan sekitarnya.

Dalam Hadits yang lain, Rasulullah SAW pernah bersumpah.

“Rasulullah siapa yang engkau sebut orang yang tidak beriman?”

“Demi Allah, orang yang tidak beriman adalah orang yang tetangganya merasa tidak nyaman atas perbuatan yang dilakukannya.”

dan Rasulullah SAW bersabda “Siapa yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhir, maka hendaknya orang itu memuliakan tetangganya.”

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, berlaku baik dan memenuhi hak-hak tetangga. Ibnu Ammar pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda bahwa betapa banyak tetangga itu memiliki hubungan dengan tetangga lainnya di hari akhir. Dalam arti, di hari akhir atau saat dihisabnya amal, banyak tetangga itu yang amalnya bergantung pada tetangga yang lain. Untuk itu ketika hidup berdampingan, harusnya menjalin hubungan yang baik dengan tetangga di sekitarnya dan tahu betul hak-hak tetangga agar dalam berkehidupan kita merasa damai juga kemiskinan tidak akan terjadi karena saling berbagi.

Kitab : Taisirul Khallaq, Pengampu : Dr. M. Faisol Fatawi, Dipublikan pada tanggal 13 Agustus 2020.