Kafirkah Ayah dan Ibu Nabi?

WEBINAR MUDARRIS

Pembahasan :
Tuduhan kafir yang ditujukan kepada orangtua Nabi mendapatkan banyak tentangan dari kalangan ulama, ahli sejarah, maupun kaum muslimin. Bagaimana tidak? Rasulullah SAW adalah pribadi yang mulia dan orangtua beliau yang mulia ini dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang yang tak beriman kepada Allah swt. Namun pendapat tersebut ternyata dapat disanggah oleh beberapa dalil naqly. Dalil yang berasal dari al-Qur’an dan Hadits.

Rasulullah SAW lahir dari pasangan Abdullah bin Abdul Muttholib dan Aminah binti Wahb. Dari sisi garis keturunan Ibunda beliau, Sayyidah Aminah binti Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah. Ibunda Sayyidah Aminah adalah Barrah binti Abdul ‘Uzza bin Utsman bin Abdul Dar bin Qushayy bin Kilab. Beliau adalah wanita yang paling mulia dalam keturunan dan kedudukannya di kalangan suku Quraisy. Sedangkan ayahnya, Abdullah bin Abdul Muttholib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Al-Nadhr bin Kinanah bin Khuzayma bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan bin Add bin Humaisi’ bin Salaman bin Aws bin Buz bin Qamwal bin Obai bin ‘Awwam bin Nashid bin Haza bin Bildas bin Yaldaf bin Tabikh bin Jahim bin Nahish bin Makhi bin Ayd bin ‘Abqar bin ‘Ubayd bin Ad-Da’a bin Hamdan bin Sanbir bin Yatharabi bi Yahzid bin Yalhan bin Arami bin Ayd bin Deshan bin Aisar bin Afnad bin Aiham bin Mukhsar bin Nahith bin Zarih bin Sami bin Wazzi bin ‘Awda bin Aram bin Qaidar bin Nabi Ismail bin Nabi Ibrahim AS.

Dari garis keturunan Ayah dan Ibunya, Rasulullah memiliki leluhur dan nasab yang berkaitan dengan Nabi Ismail as dan Ibrahim as. Literatur ilmu yang lain juga menjelaskan tentang Risalah Nabi Muhammad SAW, seperti kitab karangan Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, “Al Insanul Kamil”, yang menjelaskan tentang kesempurnaan nasab Rasulullah SAW.

Diriwayatkan, Sayidina Ali bin Abi Thalib bertanya tentang makna Surat At-Taubah Ayat 128, ketika Rasulullah membaca ayat terakhir انفسكم dari surat tersebut.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Artinya : “Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” Lalu beliau menjawab, “Aku, keturunanku, kerabatku, leluhurku, samasekali bukan keturunan dari hasil zina, semua dalam keadaan nikah yang sah.”

Hadits Riwayat dari Daraqutni dari Ibnu Abbas (marfu’), beliau juga mengatakan “Tidak dilahirkan aku dari darah jahiliyah, dan tidak dilahirkan aku kecuali dalam ikatan nikah Islam.”

Dan diriwayatkan oleh Baihaqi dan Ibnu A’sakir dari Anas ra, ketika Rasulullah berkhutbah, beliau mengatakan,
“Aku Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttholib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Al-Nadhr bin Kinanah bin Khuzayma bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar, tidaklah terbagi dua kelompok kecuali aku adalah yang terbaik diantaranya, maka aku dilahirkan dari orangtuaku dan aku tidak pernah terkena kotoran jahiliyah. Aku dilahirkan dari pernikahan yang sah dan aku tidak dilahirkan dari perzinahan, dari Adam hingga sampai kepada Ayahku Ibuku. Aku adalah sebaik-baik manusia dan aku mempunyai Ayah yang terbaik.”

Hal tersebut sependapat dengan Para ulama, bahwa semua Nabi adalah nasab terbaik dari sebuah daerah. Karena tidak mungkin seorang Nabi berasal dari keluarga yang tidak sempurna dari sisi syari’at. Hadits tersebut telah menjelaskan, jika beliau mempunyai Ayah yang baik, bukan dari seorang yang kafir dan pasti orangtuanya disucikan dari perbuatan zina.

Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa orangtua nabi bukan dari golongan orang- orang yang kafir. Sebagai seorang muslim, kita juga harus mengacu pada hadits yang lain, salah satunya adalah hadits riwayat Imam Hammad dan Imam Muslim. Dari Anas, bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah;

“Wahai Rasulullah, dimanakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada?” Beliau menjawab, “Di neraka.” Ketika orang tersebut hendak berpaling, maka beliau memanggilnya lalu berkata, “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu berada di neraka” (HR. Muslim).

Imam Suyuthi menerangkan bahwa Hadits di atas diragukan oleh Para Ahli Hadits dan hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim, padahal banyak riwayat lain yang lebih kuat darinya seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqosh :

“Sesungguhnya A’robi berkata kepada Rasulullah SAW “Dimana Ayahku?”, Rasulullah SAW menjawab : “Dia di neraka.”, iapun bertanya kembali “Dimana Ayahmmu?” Rasulullahpun menjawab, “Sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah hormat.”

Riwayat di atas, tidak menerangkan bahwa ayah Nabi di neraka. Oleh karena itu, disepakati oleh Ahli Hadits lebih kuat dari Hammad, sehingga riwayat Ma’mar dan Baihaqi harus didahulukan dari riwayat Hammad.

Pendapat tersebut, yang mengatakan bahwa orangtua nabi adalah orang yang kafir, seharusnya kita tidak langsung percaya dan melandasi pendapat yang benar melalui penafsiran dari Para Ulama. Artinya, kita memahami bahwa pendapat yang muncul harus dikonversikan dengan pendapat Para Ulama, karena terdapat perbedaan di dalamnya dari seg ilmiah.

Dalam Kitab “Al-Khashaish Al-Kubra”, karya Imam Al-Suyuthi, yang memuat pesan Ibunda Rasul, Sayyidah Aminah. Abu Nu‘aim mengeluarkan hadits melalui jalur al-Zuhri dari Ummu Samma‘ah bin Abu Ruhm dari ibunya. Beliau berkata, aku melihat Aminah dalam keadaan sakit menjelang wafatnya, sedang Muhammad yang masih anak-anak dan tumbuh kembang dengan usia lima tahun berada di dekat kepalanya. Sayyidah Aminah melihat ke wajah putranya seraya berkata :

“Semoga Allah memberkahimu wahai anakku, wahai anak yang selamat, dari lingkaran besar kematian, selamat dengan pertolongan Raja yang banyak memberi nikmat, ditebus di pagi hari dari lemparan anak-anak panah dari seratus unta yang tinggi kakinya.”

Dan diungkapkan melalui sebuah sajak,

“Kalau seandainya apa yang kulihat di alam mimpi ini benar. Maka engkau wahai putraku, akan diutus kepada seluruh manusia, dari dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan, diutus di tanah halal dan haram, engkau diutus untuk menegakkan kebenaran dan agama islam. Agama Ayahmu yang mulia, Nabi Ibrahim. Maka Allah-lah yang mencegah kamu menyembah berhala seperti kaum-kaum yang lain.”

Dalam diri Sayyidah Aminah, beliau sadar untuk tidak menyembah berhala sebagaimana kaum-kaum yang ada di Makkah terdahulu. Kemudian Sayyidah Aminah berkata “Setiap yang hidup akan mati. Setiap yang baru akan usang. Dan setiap yang besar akan fana. Aku mati sedang namaku abadi. Telah kutinggalkan kebaikan dan telah kulahirkan kesucian.”

Dari kesaksian Sayyidah Aminah itu, adakah kita masih beranggapan bahwa beliau termasuk dalam golongan orang-orang yang kafir? Dan mengatakan bahwa orangtua Nabi wafat dalam keadaan kafir?