INTEGRASI AKHLAK & PENDIDIKAN

(BELAJAR DARI TRADISI LUHUR PARA ULAMA SALAF)

“Be Careful of Your Character, For Your Character Becomes Your Destiny”
(The Words of Wisdom)

Suatu ketika, Seorang santri bernama Gus Abdul Mujib Abbas Sidoarjo –sebutan sebelum menjadi kiai– belajar kepada KH. Zubair ibn Dahlan Sarang.

Pilihan belajar di sarang sangat beralasan sebab Kiai Zubair cukup dikenal kealimannya dalam menguasai ilmu, apalagi menurut riwayat beliau masih santri KH. Faqih Maskumambang Gresik. Proses ini memastikan ada pertalian sanad ilmu antara Gus Mujib dengan sang Kiai hingga terus mengalir sampai kini.

Menariknya, di Sarang Gus Mujib yang sudah kesohor kealimannya, tidak menampakkan keilmuannya sama sekali. Ya layaknya santri baru diam di pesantren dan belajar pada Kiai. Tapi, Gus Mujib memiliki kebiasaan telah malam mengabdikan diri kepada Kiai Zubair dengan selalu mengisi tempat pemandian dan whudu’, khususnya dalem kiai. Harapan, ketika semua bangun, tidak perlu repot-repot mencari atan menunggu air.

Pada konteks yang berbeda, kita mengenal pula cerita bagaimana ketaatan Kiai As’ad Syamsul Arifin kepada gurunya, Syaikhona Kholil. Hanya untuk mengantarkan tasbih dan tongkat ke Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai As’ad menerima apa adanya, tanpa banyak komentar apalagi mengkritik. Tak anyal, perintah sang Guru memberikan kemanfaatan besar sebagai wasilah menyatukan komando bagi proses berdirinya Nadlatul Ulama, walau Syaikhona Kholil meningggal lebih dulu sebelum kelahiran NU tahun 1926.

Cerita kaitan santri-santri Pesantren Demangan yang sangat mengutamakan ketaatan dan ta’dhim kepada sang Guru cukup banyak ditemukan, disamping mereka mencari keberkahan ilmunya. misalnya ketaatan Kiai Wahab Hasbullah, KH. Bahar Sidogiri, Kiai Syamsuddin Ombul Sampang, Mbah Kiai Manab Lirboyo, Kiai Aby Suja’ Sumenep, dan lain-lain. Apa yang dilakukan oleh para Santri Demangan, secara nyata juga pernah dilakukan oleh Syaikhana Kholil Bangkalan ketika menjadi santri kepada beberapa kiai di Jawa, misalnya ketika belajar ke KH Abdul Basir Genteng Lumajang, yang hampir semua waktunya diabdikan untuk sang Guru.

Karenanya, tidak perlu heran bila kemudian, para murid atau santri yang lahir dari proses perjuangan dan Lelah mengedepankan adab –di samping juga belajar dengan tekun—mengantarkan mereka pada puncak keunggulan luar biasa, bukan hanya ungul dalam ilmu pengetahuan, tapi juga kharismanya memancarkan kepada masyarakat luas sehingga terus memberikan kemanfaatan; baik ilmu pengetahuan atau keteduhan prilaku. Kejadian ini menjadi pembuktian kontektual atas perkataan KH. Hasyim Asy’ari yang disebutkan dalam Adab ‘Alim wa al-Mutaalim, dengan mengutip perkataan Imam Syafii ra:

لا يفلح من طلب العلم بعزة النفس وسعة المعيشة, ولكن من طلبه بذلة النفس وضيق العيش وخدمة العلماء أفلح

Tidak akan pernah senang (sukses, penulis), orang yang mencari ilmu dengan mengandalkan jiwa yang tinggi dan kekayaan melimpah. Tapi yang paling menyenangkan –dan palinya banyak mengantarkan kesuksesan—adalah mereka yang mencari ilmu dengan kerendahan jiwa (tawadhu’), hidup dalam sengsara ekonomi dan mengabdi atau melayani para Ulama/Guru.

Itulah kilasan singkat cerita dari dunia pesantren, bagaimana dunia pesantren mampu memperhatikan adab, di samping ilmu. Potret kiai-kiai sepuh dengan mengutamakan adab mengantarkan beliau-beliau, bukan saja ‘alim dengan menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan dipesantren, tapi ilmunya benar-benar manfaat dalam rangka memberikan keteduhan kepada masyarakat sekitar. Termasuk, memiliki spirit kebangsaan (Baca: Nasionalisme) yang tinggi sehingga selalu berada digarda terdepan menyuarakan spirit jihad, ketika masa-masa penjajahan hingga proses kemerdekaan.

Keniscayaan Pendidikan Karakter

Dunia pendidikan bukanlah soal bagaimana mentransfer pengetahuan, tapi juga bagaimana semua stake holder memiliki tanggung-jawab mengawal proses pendidikan karakter. Pasalnya, pendidikan karakter akan menuntuk para intelektual agar terpaku pada sistem pengetahuan yang baik, bukan hanya secara akademik. Tapi capaian yang lebih selalu memperhatikan nilai-nilai moral dan kemaslahatan.

Bukankah, karena tidak adanya karakter yang kuat dan men”daging” dalam setiap jiwa individu, tidak sedikit orang pinter harus “nyungsep” dalam amarah publik, alih-alih ilmunya memberikan kemanfaatan kepada orang lain. Tidak cukup seseorang mengandalkan kecerdasan untuk mengantarkan kesuksesaan hidup, apalagi dalam perspektif Islam sukses duniawi penting, tapi kesuksesan akhirat juga penting sehingga karakter itu penting sebagai pandu dalam kehidupan.

Kutipan kata hikmah diawal tulisan ini layak direnungkan bersama: Be Careful of Your Character, for Your Character Becomes Your Destiny, berhati-hatilah dengan karaktermu sebab karakter akan menentukan nasibmu. Karenanya, pendidikan karakter menjadi PR besar bersama insan pendidikan di manapun berada, di tengah problematika dunia pendidikan yang seambrek dan menggunung yang belum selesai secara tuntas.

Pendidikan karakter adalah proses pendidikan yang fokus pada penanaman moralitas anak didik agar setiap anak didik/santri mampu memahami betul hakekat hidup. Pasalnya, hakekat kehidupan bukan individual, tapi juga sosial sehingga karakter baik secara individu harus mengalirkan kebaikan kepada orang lain, yang dalam bahasa agama dikatakan: khairunnas anfauhum li annas, menjadi manusia yang benar-benar baik dengan dibuktikan memberikan kemanfaatan kepada orang lain.

Karenanya, proses yang harus diperhatikan agar pendidikan karakter betul-betul memberikan manfaat dan berhasil. Pertama, perlu penguatan materi-materi yang berhubungan dengan karakter atau akhlak. Pastinya dengan model pendidikan yang menyesuaikan anak didik di satu sisi dan di sisi yang lain butuh keteladan para guru atau ustad dalam setiap saat. Misalnya, dengan bentuk cerita-cerita orang terdahulu yang sukses dalam hidupnya dengan akhlak sebagai teladan, disamping keilmuannya.

Pengenalan model-model karakter baik atau akhlak baik diharapkan peserta didik mampu menjadi individu Muslim terbaik dengan akhlak al-karimah sebagai panduan. Misalnya, soal kejujuran, sikap tawadhu’ kepada yang lain, tidak sombong, termasuk akhlak anak didik sebagai anak bangsa.

Kedua, dibutuhkan guru-guru yang totalitas memberikan pendampingan. Maksudnya, bukan saja guru yang mampu membuat Rancangan Pembelajaran Semester sebagai standar dalam mengajar. Tapi, ketulusan guru menjadi terdepan dalam memberikan contoh karakter yang baik, sekaligus secara spiritual sang Guru tidak melupakan do’a-do’a khusus di tengah malam.

Problem guru –atau dosen– terkini menarik sebab sudah dimanjakan beragam fasilitas dari negara, misalnya sergu atau serdos. Dikatakan problem ini menarik sebab sergu atau serdos belum berbanding lurus dengan capaian lahirnya lulusan yang betul-betul diharapkan, khususnya berkaitan dengan karakter. Belum lagi problem orang tua yang kurang ikhlas menyerahkan anaknya belajar sehingga tidak sedikit apa yang dilakukan guru kepada anak didiknya diprotes hingga ke meja hijau.

Akhirnya, pendidikan karakter atau pendidikan akhlak tidak mungkin berhasil, jika murid dan guru tidak memiliki keinginan yang sama sebagaimana dicontohkan oleh para kiai-kiai pesantren. Tidak salah bila model pendidikan pesantren bisa dilakukan dilembaga yang lain. Bukankah banyak alumni pesantren tidak hanya paham agama dan lainnya, tapi juga memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi sebab bagi insan pesantren komitmen berbangsa dengan semangat maslahah adalah bagian dari moralitas berbangsa, yang harus ditanamkan dalam setiap individu. hubbu al-wathan min al-iman.